Une erreur est survenue dans ce gadget

jeudi, octobre 24, 2013

Jadwal Kursus IFI-LIP Yogyakarta bulan NOVEMBER 2013

1. Untuk tiap tingkat, native speaker akan datang 1 kali di semua kelas  
2. Untuk info kursus dan kemungkinan adanya pengaturan jadwal khusus bisa ditanyakan di resepsion IFI-LIP   
3. Untuk pelajar dan mahasiswa, semakin tinggi tingkat anda, semakin murah biaya kursusnya  
IFI-LIP Yogyakarta, Jl. Sagan no.3 Yogya 55223 | tel. (0274) 566520/547409 | e-mail: kursus.yogyakarta@institutfrancais-indonesia.com
Facebook : IFI Yogyakarta | http://institutfrancais-indonesia.com/yogyakarta | www.ifi-lipyogyakarta.blogspot.com | twitter @IFI-Yogyakarta
Jam buka : Senin s/d Jumat 08.00-19.00 | Sabtu 12.00-16.00

jeudi, octobre 17, 2013

Pemutaran Film KCK: Indigènes|Days of Glory kamis 17.10.2013 jam 19.00 @IFI_Yogyakarta jl Sagan 3:the untold story of french foreign soldier

Indigenes (Perancis), Days of Glory (Inggris) (2006)

Sutradara: Rachid Bocuherab (Perancis)

Pemain: Jamel Debbouze, Samy Naceri, Sami Bouajila, Roschdy Zem, Bernard Blancan, Mélanie Laurent.

Genre: PerangDurasi: 128 Menit





Seorang lelaki paruh baya berjalan tergesa di lorong sebuah perkampungan gersang. Mengenakan gamis dan sorban, lelaki itu berseru dalam bahasa Arab, “Ayo! Ikuti aku! Sucikan bendera Perancis dengan darah kita!”
Perancis pada Perang Dunia II, setelah dipermalukan Jerman yang mencaplok wilayahnya, merekrut pemuda-pemuda Aljazair, Maroko, dan Tunisia menjadi tentara. Di bawah bendera biru-putih-merah, orang-orang jajahan Perancis yang kerap disebut Indigènes (pribumi) ini mengangkat senjata membela tanahair yang bahkan tak pernah mereka lihat sebelumnya.
Adalah Said (Jamel Debbouze), yang kemudian terpanggil memenuhi ajakan ini.  Nasib lalu mempertemukannya dengan Yasser (Samy Naceri), Kopral Abdelkadeer (Sami Bouajila), dan Messaoud (Roschdy Zem).
Di Italia, para Tentara Indigènes ini dijadikan umpan hidup oleh Kolonel mereka yang berkulit putih. Di barak, segala hak mereka dibatasi, mulai dari hak makan, hak naik pangkat, sampai hak menulis surat cinta. Hebatnya, setelah berulangkali didiskriminasi, mereka tetap setia. Bahkan saat Jerman menyebar selebaran-selebaran yang menawarkan kemerdekaan.
Indigenes, Film peraih Prix d'interprétation masculine di Festival Film Cannes 2006 ini, seolah ingin mengusik ide-ide nasionalisme dan patriotisme yang terlanjur dipuja orang-orang Perancis. Rachid Bouchareb, sang sutradara, menelanjangi doktrin liberté (kemerdekaan), égalité (persamaan), dan fraternité (persaudaraan) dengan gaya ironikal. Ketiga doktrin revolusi Perancis tersebut dibuat bergulat melawan diskriminasi rasial di sepanjang narasi film ini..